..:: Perhatian !! terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya by http://blognaaziernie.blogspot.com/ dan blog ini setiap harinya di update::..
animation Pictures, Images and Photos Animation Pictures, Images and PhotosAnimation Pictures, Images and PhotosAnimation Pictures, Images and Photos

Modul-modul kejahatan dalam TI

MODUS

Jumat, 13 November 2009

semangat kakek renta

. Jumat, 13 November 2009

Namanya Sahari. Bahu kakek renta itu tak lagi sekuat dulu, Ia berjalan bungkuk dan tertatih. Kulitnya kian mengeriput dan tak pula sekencang anak muda. Kaos putih lusuh dgn sedikit lubang di bagian kerah kerap kali membalut tubuh rentanya. Peci haji kecil menutupi sisa rambut putihnya.
Dengan celana panjang yg dilipat sampai mata kaki, Sahari membersihkan daun2 yg berguguran di sekitar Masjid Kantor Pajak Kalibata. Pelan penuh kesabaran, ia mengayunkan sapu lidi yg menjadi tonggak hidupnya sehari-hari. Kakek ramah itu tak hanya menyapu,ia pun dgn senang hati membantu apa saja yg bs ia lakukan. Senyumnya selalu mengembang tatkala tuan-tuan berdasi itu menyapanya. Tak pernah ia mengeluh,walau lelah pasti dirasa.
Tidur siangnya selalu lelap walau sebatas hitungan menit. Ia harus kembali mengelilingi masjid dan memungut sampah-sampah daun yg tak pernah berhenti berguguran. Bila bertutur, tak lagi jelas kata yg diucapkannya. Namun, dialek Betawinya msh kental terdengar. Kakek yg kian senja itu bertempat tinggal di daerah Serpong. Setiap pagi,ia harus bersusah menyatu dengan kerumunan penumpang kereta ekonomi. Tak cukup satu kereta ia tumpangi,ia pun harus bersabar menaiki dua kereta yang berbeda untuk sampai ke tempat kerjanya.


Tempat kerja? Entahlah,baitullah di kantor Pajak Kalibata itu memang seakan menjadi rumah kedua baginya. Ia akan kmbali pulang menemui anak cucunya bila Senja Maghrib telah turun. Ribuan meter yg ia tempuh, jutaan langkah yang ia tapaki hanya untuk menjadi seorang marbot masjid gedung-gedung menjulang.
Kemarin,ia terlihat begitu rapi dengan kemeja merah jambunya. Senyumnya masih mengembang walau ia tampak tergesa-gesa. Telat rupanya,dengan wajah penuh penyesalan, diambilnya gagang sapu dari teman seprofesinya. Lagi dan lagi, ia begitu ikhlas melakukan semua. Sesekali ia bersandar di tiang masjid dan menatap kosong ke depan. Kakinya terbujur dgn tangan saling menggenggam. Tak ada yg tahu apa yg tengah dipikirkan marbot tua itu.

Dan hari ini, sosok renta di tengah gagahnya para eksekutif muda itu tak terlihat. Berharap ia datang telat,namun tidak. Menit demi menit tetap tak ada tanda-tanda kehadirannya. Riuh suara seokan sapu lidi bukan berasal dr tangannya. Satu demi satu, jamaah masjid menanyakan sang kakek.Tak ada yg tahu keberadaan kakek marbot itu. Mungkinkah tubuhnya mulai meronta meminta belas kasihan si empunya? Atau, hal tak terduga telah terjadi?
Apa pun itu, semoga ia masih bisa menebarkan senyum kepada semua orang, mengobarkan semangat juang tuk tetap menyambung hidup, mengajarkan arti ketulusan dan kekuatan tuk menjalani apa yang digariskan Tuhan kepada setiap hambaNya.. Serta memberikan yang terbaik bagi org lain dengan apa adanya. "Tak ada kata menyerah dan pensiun bagi setiap manusia, Sampai makhluk Tuhan itu menutup mata selama-lamanya ".

0 komentar:

Posting Komentar